alectar

asel yang selalu ada dan hamzi yang selalu sedia


“Sel, kemarin aku mimpi Ibu.”

Penggunaan aku-kamu dalam hubungan kami bisa dibilang tidak terlalu sering. Biasanya, kami lebih sering menggunakan gua-elu atau panggilan nama.

Tapi ada beberapa waktu di mana salah satu diantara kami, akan menggunakan aku-kamu layaknya pasangan remaja yang sedang berada di puncak asmara. Atau kadang-kadang, emang lagi pengen aja, sih.

Setelah bertahun-tahun menjadi seorang kekasih dari lelaki yang relasinya seluas lautan, Hamzi semakin bisa terbuka dengan emosi-emosi yang dia rasakan.

Dulu dirinya hanya bisa melantur gak jelas, tiba-tiba mabok, atau diam sepanjang hari dan memilih untuk nggak menghubungiku.

Sekarang, Hamzi yang menyimpan segalanya sendiri itu sudah berubah menjadi Hamzi yang menceritakan segala hal bahkan sampai hal terkecil seperti ia diberikan kembalian dengan dua buah permen.

Saat ini kami sedang berada di rumah Ibu Hamzi. Setelah mendengar perkataan Hamzi tadi, aku langsung menghentikan permainan online yang sedang aku mainkan, menutup aplikasinya lalu mengunci layar ponsel. Atensiku kini ku arahkan penuh pada dirinya yang terlihat murung di meja makan. Tadi, dia sedang melahap bubur ayam.

Sedikit cerita, kemarin sore Hamzi bilang tubuhnya demam. Dia pusing, kalau bangun serasa melayang, serta pilek yang sakitnya terasa sampai leher itu begitu menyiksanya hingga kesusahan untuk melakukan aktivitas. Dia menghubungiku, menelpon dengan suara gemetar kedinginan.

“Aku sakit.” Katanya, suaranya terdengar parau.

Aku yang ketika itu masih di kampus, langsung keluar dan mencari angkutan umum.

“Aku di bis. Tunggu, ya. Mau makan apa?” Jawabku sambil lari.

Ada jeda beberapa menit pada panggilan kami.

“Sel.”

Aku berhenti sejenak di pinggir jalan. “Iya, Hamzi?”

“Anterin ke makam Ibu.”

Kemarin ketika di makam Ibu, hujan turun sewaktu aku dan Hamzi duduk di pinggiran pusara Ibu. Aku sudah jaga-jaga bawa payung; aku tahu akan turun hujan dan Hamzi pasti nggak akan mau menepi sebentar ke tempat yang teduh.

Kalau kata Hamzi, aku ini orangnya memang penuh inisiatif.

Meskipun memakai payung, punggung belakang kami serta bagian bawah yang tidak ikut tertutup payung itu turut kebasahan juga. Hamzi menyenderkan kepalanya pada pundakku, ia terus memandangi pusara Ibu.

“Dulu ya, sel. Waktu masih SMP, Ibu seneng banget banggain gua karena gua ganteng.”

Aku terkekeh. “Ah masa ganteng?”

Dia memeluk lengan sebelahku. “Iya lah. Lu liat aja ini, ganteng kan gua sekarang? Malah tambah ganteng gak sih setelah kumisan?”

Aku tidak balas iya ataupun tidak. Aku hanya balas dengan gelak tawa yang semakin menjadi. Hamzi seakan tahu jawaban pasti ku apa karena tiba-tiba dia menyatukan tangan kami. Jari-jari kami saling taut; saling ikat emosi-emosi yang kami rasakan sekarang.

“Dulu tuh… keluarga besar Ibu kalau ngumpul suka banggain prestasi anak-anaknya. Lu tau gua gimana kan sel? Bangor parah lah pokoknya. Waktu SMP, gua naik kelas aja udah alhamdulillah.”

Dengan seksama aku mendengar cerita Hamzi sambil mengelus tangannya menggunakan jempol.

“Waktu Ibu ditanya sama Nenek dan tante apa kelebihan aku, Ibu selalu jawab kalau Hamzi kelebihan gantengnya.”

Cerita demi cerita tentang mendiang Ibunya terus mengalir bersama hujan yang seakan mendukung perasaan Hamzi kala itu, aku mendengarkan sampai habis-sampai hujan berhenti. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk pulang sebelum matahari tenggelam.

Kembali ke saat ini, Hamzi menundukkan kepalanya seraya mengaduk-aduk bubur yang mulai mencair. Bubur itu sudah aku siapkan dari satu jam yang lalu, namun baru ia makan sekitar lima belas menit yang lalu. Itu pun, sepertinya hanya ia aduk-aduk hingga tekstur kental bubur itu hilang.

Aku menarik bangku di sebelahnya, menemaninya duduk di meja makan lalu meraih tangannya untuk ku genggam. “Seneng nggak, mimpinya?” tanyaku.

Hamzi menyandarkan tubuhnya pada senderan kursi, matanya menatap ke seluruh sudut rumah ini. Pandangannya menyapu habis apa yang bisa netranya tangkap terhadap isi rumah ratunya. Hamzi, saat ini seakan sedang memutar ulang kenangan bersama keluarganya dulu. Ia tersenyum, lalu sendu setelahnya. Selanjutnya tertawa sambil mengatakan, “si Ami dulu pernah makan garem dua sendok terus langsung muntah.” namun setelah itu alisnya menyerngit.

Aku tersenyum sendu memperhatikannya. Elusanku pada genggaman tangannya tidak berhenti satu detik pun. Aku ingin Hamzi tahu dan sadar bahwa aku ada dan aku akan selalu siap menemaninya bagaimana pun kondisinya.

Hamzi menoleh kepadaku, kepalanya tiba-tiba ia sandarkan pada pundakku. “Ada kamu.” Katanya.

“Sekarang ada kamu.” Katanya lagi.

Rasanya aku seperti sedang mendengar sumpah resmi. Perkataannya membuat hatiku hangat. Presensiku di sini rasanya sangat diapresiasi, dan aku bersyukur karena Hamzi seakan megizinkanku untuk turut hadir dalam segala fase pada dirinya.

Aku mau, aku siap, dan aku akan bersungguh-sungguh.

Untuk melihatnya rapuh, lalu tumbuh lagi menjadi seorang lelaki yang utuh. Untuk melihatnya hancur, lalu bangkit lagi menjadi seorang ksatria gagah. Untuk melihat sukanya, menyaksikan tawanya, serta menemaninya sampai nanti–sampai waktu yang memisahkan kita, sampai bumi hancur.

Karena yang ku dambakan saat ini bukan lagi nilai tinggi pada mata kuliah, atau peringkat satu dalam kompetisi.

Yang ku dambakan saat ini adalah semoga dirinya selalu disiram dengan hal-hal baik. Yang ku dambakan saat ini adalah indahnya taman kecil di belakang rumah kami nanti–ketika aku dan Hamzi sudah keriput, ketika kami akhirnya membuktikan sumpah kami masing-masing.

Bahwa aku akan selalu ada.

Bahwa dia akan selalu sedia.

asel yang selalu ada dan hamzi yang selalu sedia

“Sel, kemarin aku mimpi Ibu.”

Penggunaan aku-kamu dalam hubungan kami bisa dibilang tidak terlalu sering. Biasanya, kami lebih sering menggunakan gua-elu atau panggilan nama.

Tapi ada beberapa waktu di mana salah satu diantara kami, akan menggunakan aku-kamu layaknya pasangan remaja yang sedang berada di puncak asmara. Atau kadang-kadang, emang lagi pengen aja, sih.

Setelah bertahun-tahun menjadi seorang kekasih dari lelaki yang relasinya seluas lautan, Hamzi semakin bisa terbuka dengan emosi-emosi yang dia rasakan.

Dulu dirinya hanya bisa melantur gak jelas, tiba-tiba mabok, atau diam sepanjang hari dan memilih untuk nggak menghubungiku.

Sekarang, Hamzi yang menyimpan segalanya sendiri itu sudah berubah menjadi Hamzi yang menceritakan segala hal bahkan sampai hal terkecil seperti ia diberikan kembalian dengan dua buah permen.

Saat ini kami sedang berada di rumah Ibu Hamzi. Setelah mendengar perkataan Hamzi tadi, aku langsung menghentikan permainan online yang sedang aku mainkan, menutup aplikasinya lalu mengunci layar ponsel. Atensiku kini ku arahkan penuh pada dirinya yang terlihat murung di meja makan. Tadi, dia sedang melahap bubur ayam.

Sedikit cerita, kemarin sore Hamzi bilang tubuhnya demam. Dia pusing, kalau bangun serasa melayang, serta pilek yang sakitnya terasa sampai leher itu begitu menyiksanya hingga kesusahan untuk melakukan aktivitas. Dia menghubungiku, menelpon dengan suara gemetar kedinginan.

“Aku sakit.” Katanya, suaranya terdengar parau.

Aku yang ketika itu masih di kampus, langsung keluar dan mencari angkutan umum.

“Aku di bis. Tunggu, ya. Mau makan apa?” Jawabku sambil lari.

Ada jeda beberapa menit pada panggilan kami.

“Sel.”

Aku berhenti sejenak di pinggir jalan. “Iya, Hamzi?”

“Anterin ke makam Ibu.”

Kemarin ketika di makam Ibu, hujan turun sewaktu aku dan Hamzi duduk di pinggiran pusara Ibu. Aku sudah jaga-jaga bawa payung; aku tahu akan turun hujan dan Hamzi pasti nggak akan mau menepi sebentar ke tempat yang teduh.

Kalau kata Hamzi, aku ini orangnya memang penuh inisiatif.

Meskipun memakai payung, punggung belakang kami serta bagian bawah yang tidak ikut tertutup payung itu turut kebasahan juga. Hamzi menyenderkan kepalanya pada pundakku, ia terus memandangi pusara Ibu.

“Dulu ya, sel. Waktu masih SMP, Ibu seneng banget banggain gua karena gua ganteng.”

Aku terkekeh. “Ah masa ganteng?”

Dia memeluk lengan sebelahku. “Iya lah. Lu liat aja ini, ganteng kan gua sekarang? Malah tambah ganteng gak sih setelah kumisan?”

Aku tidak balas iya ataupun tidak. Aku hanya balas dengan gelak tawa yang semakin menjadi. Hamzi seakan tahu jawaban pasti ku apa karena tiba-tiba dia menyatukan tangan kami. Jari-jari kami saling taut; saling ikat emosi-emosi yang kami rasakan sekarang.

“Dulu tuh… keluarga besar Ibu kalau ngumpul suka banggain prestasi anak-anaknya. Lu tau gua gimana kan sel? Bangor parah lah pokoknya. Waktu SMP, gua naik kelas aja udah alhamdulillah.”

Dengan seksama aku mendengar cerita Hamzi sambil mengelus tangannya menggunakan jempol.

“Waktu Ibu ditanya sama Nenek dan tante apa kelebihan aku, Ibu selalu jawab kalau Hamzi kelebihan gantengnya.”

Cerita demi cerita tentang mendiang Ibunya terus mengalir bersama hujan yang seakan mendukung perasaan Hamzi kala itu, aku mendengarkan sampai habis-sampai hujan berhenti. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk pulang sebelum matahari tenggelam.

Kembali ke saat ini, Hamzi menundukkan kepalanya seraya mengaduk-aduk bubur yang mulai mencair. Bubur itu sudah aku siapkan dari satu jam yang lalu, namun baru ia makan sekitar lima belas menit yang lalu. Itu pun, sepertinya hanya ia aduk-aduk hingga tekstur kental bubur itu hilang.

Aku menarik bangku di sebelahnya, menemaninya duduk di meja makan lalu meraih tangannya untuk ku genggam. “Seneng nggak, mimpinya?” tanyaku.

Hamzi menyandarkan tubuhnya pada senderan kursi, matanya menatap ke seluruh sudut rumah ini. Pandangannya menyapu habis apa yang bisa netranya tangkap terhadap isi rumah ratunya. Hamzi, saat ini seakan sedang memutar ulang kenangan bersama keluarganya dulu. Ia tersenyum, lalu sendu setelahnya. Selanjutnya tertawa sambil mengatakan, “si Ami dulu pernah makan garem dua sendok terus langsung muntah.” namun setelah itu alisnya menyerngit.

Aku tersenyum sendu memperhatikannya. Elusanku pada genggaman tangannya tidak berhenti satu detik pun. Aku ingin Hamzi tahu dan sadar bahwa aku ada dan aku akan selalu siap menemaninya bagaimana pun kondisinya.

Hamzi menoleh kepadaku, kepalanya tiba-tiba ia sandarkan pada pundakku. “Ada kamu.” Katanya.

“Sekarang ada kamu.” Katanya lagi.

Rasanya aku seperti sedang mendengar sumpah resmi. Perkataannya membuat hatiku hangat. Presensiku di sini rasanya sangat diapresiasi, dan aku bersyukur karena Hamzi seakan megizinkanku untuk turut hadir dalam segala fase pada dirinya.

Aku mau, aku siap, dan aku akan bersungguh-sungguh.

Untuk melihatnya rapuh, lalu tumbuh lagi menjadi seorang lelaki yang utuh. Untuk melihatnya hancur, lalu bangkit lagi menjadi seorang ksatria gagah. Untuk melihat sukanya, menyaksikan tawanya, serta menemaninya sampai nanti–sampai waktu yang memisahkan kita, sampai bumi hancur.

Karena yang ku dambakan saat ini bukan lagi nilai tinggi pada mata kuliah, atau peringkat satu dalam kompetisi.

Yang ku dambakan saat ini adalah semoga dirinya selalu disiram dengan hal-hal baik. Yang ku dambakan saat ini adalah indahnya taman kecil di belakang rumah kami nanti–ketika aku dan Hamzi sudah keriput, ketika kami akhirnya membuktikan sumpah kami masing-masing.

Bahwa aku akan selalu ada.

Bahwa dia akan selalu sedia.

Stuck In The Moment.

POV: Ejen.

Kalian pasti tahu lingkaran, 'kan?

Sewaktu aku masih di bangku sekolah dasar, aku sebut lingkaran sebagai angka 0. Walau sebenarnya angka 0 lebih mirip oval, sih.

Namun biarlah aku mendefinisikan lingkaran dengan arti yang lain, dengan versiku sendiri; lingkaran itu bagai hidup yang ku jalani.

Berputar terus dari titik satu ke titik lainnya, tidak memiliki sudut untuk jadi persimpangan ketika lelah berlari. Setiap hari aku mengitari lingkaran yang ujungnya adalah titik mulai lagi.

Membosankan.

Sepi.

Tidak menyenangkan.

Aku mulai muak dengan kehidupan seperti ini, aku ingin sesuatu baru yang membuat hatiku rasanya akan meledak karena perasaan bungah. Aku ingin merasakan cinta. Aku ingin dicinta.

Keinginanku yang hanya diketahui oleh hati dan pikiranku kala itu, dengan cara yang begitu unik, Tuhan menghadirkan seseorang yang kini sangat bangga untuk aku sebut namanya.

Seseorang yang saat ini sedang memasangkan syal pada leherku. Syal rajut yang ia buat sendiri khusus untukku. Dengan bubuhan jahitan pada ujung syal itu. 'For eternity and beyond.'

Nggak. Bukan syalnya yang untuk selamanya, tetapi kami.

Syal itu hadiah pemberiannya untuk hari jadi kami yang ke-3 tahun. Dia punya juga, bertuliskan 'H&E'.

Yang berarti, jika disambungkan; Hiyu & Ejen for eternity and beyond.

Aku sangat menyukainya. Aku selalu bawa dan pakai syal itu kemanapun aku pergi. Syal itu bagai jimat yang membuatku semangat untuk menjalani hari. Karena hanya melihat tulisan jahitannya, sedih serta sendu yang hendak mampir rasanya seperti ditangkis.

Cuaca London sedang tidak sedingin biasanya. Namun tetap, jika tidak berpakaian hangat, cepat atau lambat dingin pasti akan menusuk.

Hiyu baru saja datang kemarin dengan bawaan oleh-oleh yang banyak sekali. Dia sampai bawa dua koper; satu untuk pakaiannya, satu untuk oleh-oleh.

Kebiasaan Hiyu selalu seperti itu setiap mengunjungiku di sini. Aku selalu antusias ketika waktunya unpacking bawaan dia dari Indonesia, dia akan mengabsen satu-satu benda atau makanan; dari siapa, untuk apa, bagaimana kegunaannya, dan hal lain yang ia sampaikan dengan menyenangkan.

Titipan itu tidak hanya dari keluargaku dan keluarganya. Namun juga dari anak-anak panti. Kata Hiyu, sebelum dirinya ke sini, dia pamit pada anak-anak panti dan memohon maaf untuk berhalang hadir minggu ini. Saat mereka tahu bahwa Hiyu akan mengunjungiku, mereka langsung membuat surat yang dihias menggunakan karton dan kertas warna.

Surat-surat itu ditulis dengan spidol warna-warni, ditambah juga dengan ilustrasi aku yang memegang mikrofon, ada juga yang menggambar menara Big Ben.

Sangat sederhana, murni, dan tulus.

Sederhana namun bermakna.

Saat ini kami sedang di jalan pulang menuju kediamanku. Kami tadi baru saja bertemu dengan Yangyang dan Kun di restoran yang sedang ramai diperbincangkan.

Tangan kananku memeluk lengan kirinya selama kami berjalan. Kami memelankan langkah, melihat ke arah manapun yang bisa mata kami tangkap.

“Ejen, liat tuh bagus.” Ia menunjuk pada salah satu payung yang sedang dipegang orang.

“Payung?”

Dia mengangguk. “Iya, payung. Kamu tau nggak, payung?”

Aku tidak heran lagi akan pertanyaan random darinya, aku selalu suka setiap Hiyu melakukan ini.

“Nggak tau. Emang payung itu apa? Kenapa kamu bilang payung orang bagus?” Tanyaku sok polos.

“Payung itu alat buat melindungi hujan, dek.”

Oh… there he goes again.

Memanggil aku dengan sebutan 'dek' setiap kali dia menjelaskan atau mengarahkan sesuatu, seperti mentor berpengalaman handal.

Aku tertawa mendengar penjelasannya. Hiyu ini… kadang nggak jelas. Tapi sudah aku bilang, bukan?

Aku ini sangat mencintainya… sangat cinta pada lelaki ini sampai ingin menjadi bodoh karenanya. Menjadi bodoh bersamanya.

“Oh… aku baru tau fungsi payung. Terus kenapa kamu suka payung orang?”

Kami berhenti melangkah. Hiyu memandangi payung orang itu sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke arahku.

“Soalnya payung di London gede. Ibun suka payung yang gede dan lebar, supaya belanjaannya nggak ikut keujanan.”

Si dia yang sekarang janggutnya ia biarkan tumbuh itu mengatakannya dengan sangat serius. Aku nggak bisa menahan tawa ketika matanya terlihat sungguh-sungguh menyukai payung milik orang.

“Nanti kita beliin buat Ibun, ya…”

Hiyu pasang tampak terkejut, lalu tangannya ia kepal dan entakan ke bawah. “Yes! Ibun punya payung baru.”

Aku tidak perlu bertanya mengapa ia sesenang itu hanya karena payung. Aku sudah tau jawabannya; dia suka melihat orang tersayangnya bahagia, atau bisa juga, dia memang sedang ingin jadi dirinya sendiri.

Atau kata lainnya, dia sedang tidak jelas.

Tangan kirinya sekarang bertengger di pinggangku. Kami jalan lagi dan aku dengan nyaman bersandar di pundaknya.

“Ejen mau payung juga gak? Aku punya banyak loh, hadiah dari event-event.

“Nggak mau. Aku gak suka payung.”

“Loh? Terus kalau ujan kamu gimana?”

“Ada kamu…”

“Tapi aku gak bisa lindungin kamu dari air hujan?”

“Gak mau pake payung… lebih suka ujan-ujanan sama kamu.”

Sebut aku menjijikan. Sebut aku apa saja yang kalian ingin sebut. Aku tidak akan menangkalnya, karena aku benar-benar ingin melakukannya.

“Kalo ujan-ujanan ntar masuk angin dong? Bahaya ah. Di London gak ada tolak angin soalnya.”

Aku dibuat tertawa lagi.

“Ibun kan bawain aku tolak angin sampe dua pak.”

Hiyu menepuk dahinya. “Lah! Bener yak. Ya udah, tuan Ejen mau ujan-ujanan kapan?”

Aku memasang raut berpikir. “Hmm… nanti aja deh pas di Indonesia.”

Dia mengangguk seraya terkekeh. “Bener. London kalo abis ujan bukannya adem malah jadi es batu ntar kita.”

Kami berdua larut dalam tawa sepanjang jalan. Menertawakan apa yang tidak perlu ditertawakan, mengomentari hal yang tidak masuk akal, lalu tertawa lagi karena tersadar akan hal-hal yang kami lakukan.

Saat sampai di depan pintu unit apartemenku, Hiyu menahan tanganku untuk membuka kunci. Aku terheran, matanya kini mendadak terlihat sendu. Kedua tangannya berada di pundakku; memposisikan diriku agar terfokus hanya padanya.

Hampir dua menit ia memandangku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya menghela napas, lalu menghembuskannya kasar.

“Hiyu, kamu ken—”

Dia memelukku.

Erat sekali.

“Kenapa, Hiyu?”

Bukan peluk yang biasanya ia lakukan. Pelukan ini terasa nyaman namun sedih dalam satu waktu.

“Ujan-ujanannya sama aku aja.” Ucapnya di sela perpotongan leherku.

“Kenapa sih?” Kami masih di depan pintu kediamanku.

“Aku nggak masalah kamu peluk aku. Cuman lanjut di dalem aja, please. Emangnya kamu nggak kedinginan?” Lanjutku.

Akhirnya Hiyu mau lepaskan pelukannya. Namun kedua tangannya itu masih berada di pundakku. “Tapi ujan-ujanannya tetep sama aku, ya?”

Aku semakin heran dan mulai agak kesal. Kesal karena dia tak kunjung menjelaskan maksud di balik kalimatnya tadi.

“Kenapa sih kamu?” Intonasi perkataanku mulai sedikit naik.

Dia menggaruk pelipisnya. “Itu.. semalem.”

“Semalem kenapa? Hiyu… kamu sekarang kayak anak umur 3 tahun tau.”

Dia hembuskan lagi napasnya, kali ini terdengar seperti putus asa. “Semalem aku mimpi kamu jalan sama orang lain. Dia nginep di tempat kamu, dia buatin kamu bubur, dia payungin kamu waktu ujan, dia sebut nama kamu waktu dia dapet penghargaan.”

Dia melanjutkan kalimat selanjutnya sambil mengelus pipiku. “Semalem aku mimpi kamu bahagia dan bukan sama aku. Aku nggak bisa apa-apa... aku cuman bisa liatin kamu dari jauh. Aku bahkan gak pernah ke London di mimpi itu.”

Ya Tuhan.

Aku sangat, sangat, sangat mencintai lelaki ini.

Aku sungguh akan mencintainya seumur hidupku.

Aku berjanji, aku berteguh hati akan selalu menjadi Ejennya hingga akhir waktu.

“Hiyu…” Aku meraih pipinya, mengelusnya lalu merapikan pinggiran rambutnya yang tambah panjang.

“Iya aku kayak balita. Tapi kamu janji dulu jangan ujan-ujanan sama orang lain, please…?

Ya Tuhan… untuk memikirkannya saja aku nggak sanggup hati.

Aku mengecup bibirnya singkat. “Iya. Sama kamu doang. Apapun sama kamu, pokoknya selalu sama kamu.”

Si dia yang mendengar jawabanku itu langsung senyum dan mengecup keningku.

“Nanti sebelum bobo aku baca doanya lebih lama deh.” Katanya setelah mengecup keningku.

“Biasanya juga kamu baca doanya lama.”

“Kali ini harus lebih lama.”

“Emang mau doa apalagi? Satu dunia kamu doain, ya?”

“Berdoa supaya gak dapet mimpi kayak semalem lagi.”

Aku tersenyum. “Iya. Nanti aku juga doa yang banyak.”

“Banyak? Apa aja tuh? Aku boleh tau gak?”

“Semoga kamu yang tetep jalan sama aku, kamu yang tetep nginep di tempatku, kamu yang buatin aku bubur, semoga nama aku yang kamu sebut gimana pun kondisinya. Semoga aku bahagianya terus sama kamu.”

“Ujan-ujanannya mana?” Ternyata umur hanya angka. Tingkah laku Hiyu sekarang persis balita yang dijanjikan mainan kalau makannya lahap.

“Iya, sayang. Sama kamu juga ujan-ujanannya.”

For eternity and beyond?

For eternity and beyond.

Matahari yang Murah Hati.

POV: Raya.

Mami pernah bilang, orang paling baik adalah orang yang bersinar namun tidak bersinar sendiri.

Saat itu saya sedang menyesap teh bersamanya di taman belakang. Saya bertanya, “tidak bersinar sendiri? Maksudnya gimana, Mi?”

Mami meletakkan buku yang sedang dibaca pada pahanya. Pandangannya kini menoleh ke arah saya. “Dia bagi sinarnya untuk orang lain, Aya. Nanti, ketika kamu sudah mengerti, Mami harap kamu bisa bersama dengan seorang matahari yang murah hati.”

Saya masih di usia tujuh belas kala itu. Teringat jelas dan tersimpan secara rinci di ingatan saya kalimat yang Mami sampaikan. Kami suka menghabiskan dengan membaca buku bersama di taman belakang, dan Mami selalu beri petuah-petuah kehidupan.

Dalam keluarga, saya adalah anak pertama yang berani melawan.

Masa depan anak-anak keluarga Mami, sudah disiapkan rapi oleh Papi. Namun di antara saudara-saudara saya, sayalah orang pertama di keluarga ini yang menentang Papi.

Saya mengundurkan diri dari perkuliahan di tahun kedua. Orang tua saya muak pada saya, akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi tinggal di rumah. Saya cari kos-kosan, dan tinggal di sana sembari saya cari pekerjaan.

Setelah berbagai pekerjaan saya coba, saya diterima di sebuah kafe dekat kampus yang berada di tengah kota. Pekerjaan yang menurut saya sangat mendekati passion saya; berkecimpung di bidang kuliner.

Singkat cerita, hari itu saya memang merasa kurang enak badan. Saya nggak sadar kalau ternyata hari itu adalah jadwal bulanan saya, sampai tiba-tiba, seorang pelanggan dengan baik hati menyampaikannya pada saya.

Keadaannya waktu itu, saya sedang mengantarkan minuman, menyajikannya di meja lalu mengucapkan terima kasih pada pelanggan yang duduk sendirian di lantai atas.

Namun ketika saya berbalik, hendak turun ke lantai bawah dan melanjutkan pekerjaan, pelanggan yang tadi memanggil saya. Saya hampiri dengan senyum lebar walau perut saya terasa seperti ditekan.

Lelaki itu menoleh ke kanan dan kiri; seperti meyakini dirinya bahwa tidak ada yang akan mendengar perkataannya.

“Mbak, saya mohon maaf karena nggak bisa bantu banyak. Ini jaket saya, boleh dipake buat menutupi noda mbak.”

Saya masih bingung dengan perkataan dan pemberian tiba-tiba lelaki itu, namun pada detik selanjutnya, ia mengetik sesuatu pada ponselnya lalu ditunjukkan kepada saya.

Sepertinya Mbak datang bulan?

Saya refleks menutupi bagian belakang saya dengan nampan yang saya pegang. Lelaki yang sekarang saya kenal dengan nama Donghyuck itu menyerahkan lagi jaketnya untuk segera diambil. Saya mendadak linglung, saya merasa sangat malu, saya terbata-bata mengucapkan terima kasih sambil menerima jaketnya.

Lelaki yang sekarang sangat saya kagumi, lelaki yang diperkenalkan Mami pada saya, Mas Donghyuck.

Waktu berjalan lalu akhirnya saya bisa membangun toko sendiri dengan tabungan sendiri dan pinjaman modal dari Kakak. Setelah dua tahun lebih saya tinggal sendiri, akhirnya saya memberanikan diri untuk pulang dan langsung berlutut di kaki Papi.

Saya menangis sejadi-jadinya, Mami juga menitikkan air mata. Sedikit informasi, Mami bukanlah orang yang sering menunjukan berbagai macam emosi. Mami bisa dibilang datar dan tegas, namun pada hari di mana saya akhirnya pulang, air mata yang jarang saya lihat itu, turun di pipi Mami yang cantik.

Selama saya hidu